dalam doaku subuh ini kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin yang mendesau entah dari mana
dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
magrib ini dalam doaku kau menjelma angin
yang turun sangat pelahan dari nun disana,
yang bersijingkat di jalan kecil itu
menyusup dicelah-celah jendela dan pintu
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang dengan setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Sapardi Djoko Damono (1989)
Dalam Doaku
Posted by
Yudhistira H. Anirun
at
Friday, September 21, 2007
